Senin, 21 Mei 2018

LAMPUNG, the charm of south most point in Sumatera




Seketika Whatsapp messenger saya berbunyi dan terbukalah
sebuah pesan

“Fer, baru aja gw ngomongin kemungkinan ke Lampung bareng temen,…”

Begitulah Inti kata-kata pembuka dari seorang temen, yang secara acak mengajak untuk bertualang ke Lampung.

Dalam beberapa pekan belakangan memang saya cuku tertekan pada beratnya dinamika kehidupan dalam mencari rejeki halal di ibukota. Belum lagi sejumlah drama yang menyelimutinya. Apadaya dan boleh dikata, ajakan teman ke Lampung pun saya seriusi. Berbekal laptop yang tengah ada disebelah tangan (mestakung, ala sinetron laga jaman dulu yang tatkala jagoannya berantam dan tersungkur, tiba2 ada balok kayu atau apapun itu disampingnya…), maka saya segera riset hal ihwal menuju Lampung. Mulai dari tiket pesawat, penginapan, hingga destinasi.

Oya saya pernah ke lampung 3 kali sebelumnya. Yang pertama ke Pahawang ikut open trip. Yang dua dan ketiga adalah dalam rangka pekerjaan. Lampung cukup meninggalkan memory indah dalam membran batang otak saya. Mulai dari makanannya, keelokan alam nya, hingga hal-hal yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Oya, kenapa saya memutuskan (lah kapan jadiannya, udah langsung putus aja…) pakai pesawat, karena riset dan rencananya pun mendadak. Saya tak mau terjebak dalam perjalanan panjang berjam-jam tapi capek, demi kesenangan haqiqi yang tercipta sekejap mata.

Well, setelah disepakati tanggal, yakni 20 - 22 april 2018, saya pesan tiket melalui aplikasi berlogo a-wan. Mudah dan murah, (gak diendorse, so, plis endorse,,, biar blognya tambah rajin/…).
Kamipun menentukan titik2 yang akan dijelajahi. Rencana memang indah, setidaknya 2 tempat jadi tujuan utama : Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dan Kiluan. Di TNWK kami berniat jadi hamish daud (di film nekad traveler FYI) atau Chicco Jerikho yang main2 dengan hewan cerdas nan menggemaskan ini. Sementara di kiluan kami hendak melihat rombongan lumba-lumba di teluknya, sembari membasahi diri dengan vitamin sea nya.


20 April 2018
Semenjak jadi kaum penglaju, saya memutuskan tidur dikantor pada Kamis malamnya. Karena first flight. Perjalanan CGK - TKG pun dengan lancar dan tanpa celah (DELAY) terlewati. Dari bandara saya iseng2 mau nyoba aplikasi ojek daring, eh ternyata bisa. Dari pada naik bus yg ngetem dan entah turun dimana, maka saya langsung order OJOL. Dengan satu prasyarat : saya harus jalan keluar bandara dan menunggu didekat pintu VIP yang berjarak 100-150 meter dari pintu utama. HUFT.

Selama perjalanan bandara ke hotel, saya yang setengah mengantuk diajak obrol terus oleh abang OJOL. Mulai dari dia yg curhat soal kerjaanya, dia cerita soal latar belakang keluarganya yg transmigran (seperti orang lampung pada umumnya), dan saran buat saya yang mau berlibur sejenak ke lampung ini.

“kalo mau liat gajah mah main ke kebun binatang di karang aja” (merujuk pada tanjung karang, nama lama kota Bandar Lampung) ujar sang babang tamvan ojol.

“saya, saya mau kayak hamish bang, mandiin dan berinteaksi dengan gajah dialam…” jawab gue polos.
Tibalah saya dihotel ARINAS (sempet lupa nama hotel ini, namun tetiba ingat dengan salah satu penyanyi muda berusara 5 oktaf. ITU ARIANA GRANDE...), tepat depan pintu masuk hotel, bukan
gerbang, atau depan jalan hotel. Literally depan pintu yang menjadi akses langsung ke lobby. Saya pun meluncur ke kamar NOMOR 212. (WIRO SABLENG KELES,,,,), dan bertemu sebuah makhluk sehat bernama IFTOR. Yep, dialah partner travel kali ini. Oya sediki cerita, dia adalah teman disaat kuliah, PKL dan berbagi segala persoalan hidup yang melanda diri. Udah ya, tar keenakan dia gw promote disini.

Akhirnya saya mandi, (karena belum mandi sedari kamis malam), beberes dan…

“yuk, siap2 ke TNWK. Pas nih kalo dari sini jam 10, sampe jam 12an, dan abisnya main sama gajah…”
Buka gw dengan semangat.

“lo yakin ke TNWK, jauh loh, dan kita baru sama2 sampai…” iftor menjawab dengan nada letih, karena ia baru menempuh perjalanan via kereta malam (kek lagu dangdut aja ya) Palembang - Lampung.

Akhirnya tanpa banyak basa yang sudah basi, kami pun ngobrol, dan KETIDURAN….jangan curiga dulu deh. Kasur kami TWINS. Jd ada jarak. (penting…)
Kami pun terbangun di tengah hari, melewatkan sholat wajib yang bagi sebagian pria akan merasa ganteng (candaan lawas sih). Tak ada yg terbangun, karena kami berdua sama2 letih dengan urusan kerjaan dihari2 sebelumnya. Maapkeun…
Setelah sholat dhuhur, kami mencari makan untuk mengisi
perut2 penuh kelaparan. Saat maksi inilah kami mulai atur strategi baru untuk hanya bertualang di KILUAN. Well, saya pun memutar otak untuk mencari motor yang bisa dipinjem, karena kalau sewa akan sangat ribet dengan harus menyerahkan 4 DOKUMEN sodara2. KTP, KK, BPJS DAN NPWP. YAKALI gw bawa2 KK kemana2 termasuk traveling. Akhirnya bantuan datang dari kontirbutor saya di Lampung. Hehe, ini lah faedahnya jadi wartawan, punya banyak rekan di daerah yg bisa dimintai tolong. Untungnya pernah ketemu mas Imam saat liputan WAJIB babeh di Kota Metro lampung.

Dari sore - sekira jam 19 saya dan Iftor menyempatkan tarik suara di sebuah waralaba karoke berinisial INULVIZTA. Karna cuma berdua, karoke 2 jam pun terasa dua abad. Jam 20 saya menuju rumah mas imam yang menurut saya sebagai pendatang cukup jauh. Apalagi saya Sempet keujanan saat menuju rumah mas Imam, dan OJOL yang saya tumpangi kembali CURHAT saat kita tengah berteduh. Bahkan abang OJOL ini minta tolong dicarikan orang yg telah menipu usaha keluarganya. Katanya sih sang penipu kabur ke jakarta, makanya dia minta bantuan saya. ELAH BANG…

Jam 23 kurang beberapa menit, saya akhirnya dapat MOTOR PINJAMAN, wew, lama bener nego nya. Maklum diajak obrol kesana kemari. Tiba dihotel kamar sudah gelap, Iftor tidur lelap. Dan baju saya dari kering, basah, kering lagi. Mandi, tidur, karena esok harus ekstrak pagi menuju kiluan.


21 April 2018
Setelah sholat shubuh, kami langsung bergegas menuju Kiluan. Perjalana 3 jam tak terasa bosan karena pemandangan yang super duper ajib. Bayangin ada pantai dipinggir jalan persis. Jarak tepi jalan dengan pantai cuma beberapa sentimeter aja, gokil sih ini. Tepatnya didekat pantai sari ringgung. CMIIW.
Akhirnya jam 8an kami tiba di penginapan yang sudah kami sewa via wa dengan sang pemilik. Simpan barang2 dan segera memulai tur pertama. DOLPHIN.

Yep, orang lokal memang lebih sering menyebut kata DOLPHIN dibanding lumbah-lumbah. Mungkin lebih ringkes dan internesyenel kali ya.
Saya menggunakan jasa pak Dirham untuk tur dolphin ini. Sewa kapal sebesar 300.000, seharian. Sekira satu jam kami tiba di tengah lautan, setelah menunggu… voila… rombongan lumbah2 pamer atraksi. Mulai dari ada yang loncat, sekedar ambil napas ke permukaan, hingga berenang meliuk2 dibawah laut (yang ini keliatan jelas dr perahu, saking jernih air di teluk kiluan…)

Oya, yang menemani kami dikapal bukan pak Dirham. Melainkan pak Agus, kerbatnya juga. Tapi Pak agus dengan sabar dan maklum dengan kenoraan saya dan iftor yang bahagia melihat sihitam manis ini. Saya sudah memutuskan mau balik, tp iftor masih belum puas. Maka kita bertahan di telauk hingga sekitar pukul 11 (2 jam kurang berpanas2an melihat lumbah2). Oya pak Agus bilang gini, dan mungkin cukup menampar bagi yang suka berdalih pendidikan atau hiburan dengan menontonya di sirkus

“keren kan lihat lumba2 dialam aslinya. Memang harusnya begini, bukan dengan nonton di sirkus atau gelanggang…”

lumba-lumba dan ujung jukung
Jam 11 lebih 30, kami mendarat ke pulau kelapa / kiluan. Disini kami ditawari mau makan siang / gak. Tentu mau lah, meski bayar. Ya iyalah. Sembari nunggu makan siang, kami memerawani pantai nya yang saat itu SEPI BANGET., cuma saya dan iftor yang berkunjung,, maka puaslah kami mengambil ratusan foto, dan bermain2 air disini, hingga kacamata saya hilang terbawa ombak.

Oya, pantai di pulau Kiluan ini sempurna: ombak ga terlalu besar (ada sih yang besar, dibagian belakang pulau, entah ke arah mata angin apa, tp kalau sudha yg banyak batu dan hutan, itulah pantai yang ombaknya besar). PASIRNYA putih dan landai. Jadi jalan beberapa meter pun ga langsung dalam, berasa kolam pribadi. Cek aja beberapa foto NAIS berikut…

sepi, pas untuk baca sajak cinta "kulari ke pantai kemudian teriaku..."

ini ceritanya candid oleh paparazzi

Makan siang tiba, kamipun menyantapnya dengan lahap. Oya, perawakan teman saya itu memang subur sih, gak heran istri pak Dirham menyiapkan 2 poorsi bak untuk 10 porsi. Banyak banget men,… nasinya jumbo, sayurnya juga, ikan dan sambalny apalagi.

Jam 15.30an kami pun kembali ke pulau utama, Sumatera untuk
mandi, dan istirahat.
Malam kami habiskan hanya di penginapan, secara saat itu sepi banget. Ga terlalu banyak wisatawan juga. Jadi saya yang memang jam 8/9 harus udah bobok, pun bobok terlebih dahulu. 

22 April 2018
Its Sunday. Alias Sunny day. Yep, kita berburu sunrise tapi gagal. Selain kesiangan, awan agak menghalangi pemandangan. Tapi bukan berarti kami dokem-dokem bae di bungalow. Saya dan Iftor harus merelakan keringat terbuang dengan mendaki ratusan tangga menuju ke LAGUNA GAYAU. Yep, laguna yang mungkin foto2nya tersebar banyak di IG ini spot yang gak kalah menarik buat dikunjungi jikalau ke Kiluan,. sekitar 10 menit tiba, kami langsung ditawari pemandangan emnakjubkan dari water blow. Ya mirip kayak water blow di nusa dua bali. Atau pernah nonton film FOOLS GOLD nya matthew mc conaughey dan kate hudson? Nah wtaer blow ini semacam ombak yang menghantam karang bolong, lantas menyembur muncrat hingga ke angkasa. Semoga ada gambaran ya. Kalo gak, nih, ada video nya...
 
OYA, MESTI WAJIB KUDU HARUS kalau ke Laguna ini ditemani dengan seorang local guide,. karen apernah ada kejadian tak mengenakan teradi. Jadi ditemani local itu keharusan ya. Karena pada dasarnya, jika kau tak bisa berenang, jangan sesekali menurunkan diri ke laguna, tiba2 terjadi ombak besar yang masuk ke laguna, dan bisa menyeret siapa saja. Tapi itu jedanya 40an menit seklai. Selama tak ada ombak, laguna aman untuk direnangi, difoto2i, asal tetap waspada. Teman saya pun sempat terbawa arus ombak besra itu saat laguna dimasuki ombak besar. Tapi karena dia bisa berenang, maka semuanya aman.
Berikut foto2 keindahan HQQ laguna gayau.
 
keindahan bercampu kedamaian yg HQQ

kalau mau kesini gak usah mandi dulu.

Jam 9.30 an kami kembali ke penginapan, karena maksimal jam 11 kami sudah harus kembali ke kota Bandar Lampung, dan kota kami masing2 dengan membawa memori indah dari bumi ruwa jurai, Lampung.

Lampung, titik paling selatan Bumi SUmatera ini adalah tempat ideal untuk short getaway dari ibukota. Selain jarak yang dekat jika dengan pesawat, harga segalanya masih murah dan masuk akal. Semua hal disini pun sangat mempesona.

Oya, ada satu spot yang masih buat saya penasaran sih (selain TNWK). PULAU PISANG, semoga ada kesempatan suatu hari untuk menyambanginya.
berikut beberapa kontak dan informasi yang dirasa mungkin akan bergina bagi yang hendak menjadikan Kiluan sebagai pelarian sejenak yang sempurna :

Pak Dirham (sewa jukung / perahu) - 081369991340

Bahan Cottage - Bang Baan : 081379930669 / 085269736950

NB : operator telekomunikasi yang tersedia : telkomsel
makan bisa pesan pada pemilik penginapan, untuk makan malam dan sarapan. Makan siang saat trip dolphin bisa satu paket dengan penyewa perahu di pulau Kiluan.



Lots of love
Ferry 

Minggu, 08 April 2018

CIREBON, PELARIAN SEMPURNA DARI IBUKOTA

Kantor Walikota Cirebon


Memasuki bulan April, (at least tahun 2018 ada satu postingan dalam satu bulan) saya kembali menulis atas permintaan… (Ga ada yg minta juga sih)
Well, ini seri travelperience yang sepertinya baru 3 minggu yang lalu (saat nulis, bukan posing) dilakukan, dalam kondisi tanpa rencana alias muncul begitu sahaja.

Diawali ketika saat seorang teman mengirimi WA di grup yang isinya memang cuma bertiga, yaitu A, B dan C. si B tetiba membangunkan grup dengan cuitannya.
“A (A merujuk pada saya) si C lagi winter break tuh di kampung halamannya Cirebon.” (winter break = cuti pulang kampung)
“Wah menarik tuh” gw belum ngeh juga. Maka tanpa tedeng aling-aling si B to the point
“Ayok kita trip ke Cirebon. Semalem juga gapapa, manfaatin weekend, mumpung kuliah gw libur.”
Maka tanpa pikir panjang (Hari itu Selasa kalo ndak salah), saya langsung riset tiket kereta api, hotel dan lokasi yang mau dikunjungi. C sebagai tuan rumah pun menyambut dengan suka cita.
“Ga usah ngehotel, dirumah gw aja…”

Namun setelah merujuk pada tugas saya yang masih ada, dan si B yang juga dihantui tugas kuliah master nya, maka akhirnya kami memutuskan untuk TIDAK MENGINAP. Yap, hanya ONE DAY TRIP TO CIREBON.


Sabtu 20 Januari 2018

Bangun pagi2 dengan bantuan alarm jam 4.00. sejak saya jadi warga sub urban, maka saya memutuskan nebeng tidur di tempat teman saat itu, dengan harapan tak terlambat dan ketinggalan kereta di Stasiun Pasar Senen. Setelah mandi, ibadah dan packing, saya memesan Gojek, dan pamitan lah pada tuan rumah,
“Gw cabs ya, thank buat tebengannya…”
“udah gila lu, mau ke luar kota gak pake jaket. Gak bawa kan? Tuh pake jaket gw…”
GW : NANGIS HARU tapi boong.
Ditemani derai hujan khas bulan Januari, gojek gw meluncur jam 5 kurang 15 dan tiba 5 lebih 15 menit. Wow, diluar dugaan, cepat sekali, padahal Jadwal kereta nya masih 6.55. Walhasil saya menuggu agak lama di stasiun, karena teman saya bahkan baru siap2 jam 5, dan tiba jam 6 kurang.

Setelah sejam lebih luntang-lantung dan nebeng lesehan depan Alpamar*, saya yang tengah menenggak minuman lembut, dikejutkan dengan kedatangan Mr B.
“Hei per,.. udah lama nunggu, langsung masuk yuk… tiket gw udah lo cetak kan?”
Saya pun hanya mengangguk nurut bak di hipnotis dan menuntunnya ke boarding room.

TEPAT. Saat waktu menunjukan 6.50an semua penumpang sudah dipanggil masuk gerbong, karena kereta benar2 berangkat sesuai jadwal. Perlahan meninggalkan keramaian yang memecah pagi di Senen, pemandangan dari gerbong pertama kursi 4A saya berubah menjadi Gedung2 tingkat di gambir dan sekitarnya, beberapa menit kemudia berubah ala pemandangan sub urban seperti antara jatinegara hingga akhirnya bekasi. Dan ketika sinyal 4G udah agak-agak tak menunjukan jati diri nya, berubah menjadi H+ bahkan E, maka saya yakin itu sudah memasuki luar Jabodetabek. Setelah saya cek, oya KARAWANG, maka mulai terlihat sawah-sawah yang agak luas sepenglihatan mata. 

Pemandangan selepas Jakarta


OH GOD, I'M ESCAPE, FINALLY.
Setelah hampir sibuk dengan kerjaan dan cuti yang selalu tertunda (bahkan saat ngetik ini, adalah episode lain dari CUTI YANG TERTUNDA).

Jam 9. kami tiba di stasiun kota Cirebon. Stasiun ini masih sama, bersih, rapih dengan bangunan bergaya kolonial yang masih apik. Sekeluarnya kami dari stasiun, puluhan pengendara becak, ojek, hingga taksi menjajakan jasa nya. Kami tolak secara halus karena memang janjian dengan teman kami C yang rencananya mau jemput.

Setelah ngalor ngidul dan jalan agak jauh dari stasiun, kami menelpon C. eh ribet gak sih pake ABC. Oke, saya kenalkan ya, B adalah Ricki sang penggagas tur, dan C adalah Eka sang tuan rumah.
Kami pun janjian dengan EKa didepan SMP 1 Cirebon. Beberapa saat kemudian datanglah Eka dengan putri kecilnya. Setelah ngobrol basa baS busuk, saya to the point. LAPAR, PENGEN SARAPAN. Eka pun mengajak kami sarapan ala Cheerbon : EMPAL GENTONG. Kami memberli empal gentong yang terletak di salah satu sisi alun-alun Cirebon. Ada semacam foodcourt gitu. RAsanya, gurih, dengan banyak diberi taburan seledri atau kemangi (maap, penulis ga riset dan gak yakin apakah itu seledri, kemangi atau justru rempah lain). Yang jelas Empal nya juara, RIcki aja sampe nambah dua kali. Dan ibu penjual sampe nawarin ke saya juga “mau nambah” tapi saya tolak karena tahu tujuan berikutnya gak jauh dari makanan.

Empal gentong yang gurih-gurih bahagia


Setelah kenyang, kami sesaat ngobrolin kehidupan pra, jelang dan pasca usia 30an. Hux…biasa lah gak jauh-jauh dari karir kami sebagai awak media, jurnalis, apapun itu. Sedikit latar belakang. Ricki sudah malang melintang sebagai jurnalis. Mulai dari surat kabar lokal di kampuang halamnnya Padang. Ia pernah jadi penyiar radio SUshi FM padang, dan juga wartawan Harian SInggalang. Sekarang dia jadi abdi di TV Merah Pulogadung. (you know what lah ya…). sementara Eka (ini nama cowok ya…) gak jauh beda. Ia dari kuliah saja sudah menempuh jurusan komunikasi, broadcast pula. Pernah di TV yang dulu identik dengan anak muda yang suka nongkrong. Lalu sekarang di TV merah pulogadung juga. Ya mereka sekantor. Sementara saya gak usah diceritain lah ya. Saya dan Ricki akrab karena pernah sama-sama bertugas di KPU saat Pemilu 2014. dari awalnya mush bebuyutan karena sering berbeut narasumber, sampe akhirnya mau gak mau saling bahu membahu dan terkadang bebisik info. Sementara saya dengan Eka pernah bertugas di Istana di tahun 2015. maka ya begitulah.

Jam 12an kuran kami meluncur ke Trusmi (bukan, bukan tagline iklan TRUSMI IT WORKS…) guna berburu BATIKKKKK. Yep sebagai pecinta BAtik, saya gak mau melewatkan kawasan ini. Bahkan rencana awal ke Keraton pun terlewat karena kami menghabiskan waktu sangat lama di Trusmi. No wonder sih, karena batik2 disini punya motif sendiri, dimana batik pesisir umumnya lebih cerah. Saya aja ngeborong buat saya (cuma satu batik sih) dan anggota keluarga saya yang pesenannya naudzubillah. Oya, batik2 disini murah, saya aja kaget dengan motif bagus tapi harga masih di kisaran 100 ribuan. Go cek some of wonderful batik here..

Yang mau tunangan, yang mau tunangan, ayok dipilih2 batiknya...
 
Batik motif Mega Mendung, yang khas dimari

Dari Trusmi, kita mampir ke Es Oyen. Karena cuaca Cirebon yang panas, maka pas banget mereguk es disiang hari. Setelah puas, kami menyepi sejenak ke Gua SUnyaragi. Yep. Dahulu kala ini tempat tetirah, menyepi, mencari kesunyian ragawi. SUNYA = SUNYI, RAGI = RAGA. Begitulah kira-kira (CMIIW). disini suasana ramai (jauh dari ekspektasi ingin mencari kesunyian) karena banyak banget pengunjung, dutambah dedek2 gemes pramuka yang sedang ada latihan. Kalau saja kemampuan foto saya diatas rata-rata, maka foto-foto disini pasti lebih elok dipandang mata. Namun ya beginilah, semmapunya saja.

Setelah dari Sunyaragi, kami langsung berpisah dengan EKa karena kasian anaknya sudah mulai terlihat letih, lesu lemas dan lunglay. Alias kecapekan. Maklum jalan2 sama om-om girang.

Dari Sunyaragi saya dan Ricki pun meluncur ke Nasi Jamblang seberang Garge Mall. Lupa nama nasi jamblang nya. Tapi enak parah, nyesel gak bungkus bawa pulang jeakarta.

Oya selama perjalanan kami menggunakan moda transportasi daring (online) Gojek. Ini non endorse yah, cuma saya pikir ini snagat membantu. Mudah dan anti ribet. Tapi dengan semangat demi mengangkat kearifan lokal, trip terakhir dari nasi jamblang ke stasiun kami menggunakan becak, dengan pengendara yan sudah sepuh,. inign hati menggantikannya menggenjot becak, namun saya sedang tidak syuting JIKA AKU MENJADI. Dan kami kami sudah lebih dari cukup melangkah sepanjang hari di kota udang. So, semangat pa genjotnya.

Sepotong keunikan Gua Sunyaragi


Satu hal yang bisa saya teladani. CIrebon adalah kota yang baik dalam mengelola pariwisata. Dengan luas wilayah yang tak terlalu besar, namun kekayaan tradisi dan sejarah mampu diolah menjadi komoditas yang menghadirkan wisatwan (terutama dari ibukota) setiap akhir pekannya.
Ajabinya kocek yang harus saya rogoh pun lebih kurang sekitar 500 ribu. Tiket kereta PP 220an ribu. Transportasi Cirebon dengan GO car sekira 150 ribu. Makan sampe kenyang dan oleh2 paling 150 ribu. Batik (ini tergantung masing-masing ya guys, karena saya borong buat keluarga, jadi habis 300an ribu, untuk 7 potong kain loh itu). 

Dan langit kala itu mendung2 manjah

So, bosan dengan Bogor, puncak atau Bandung? Cirebon is worth to visit guys.

Rabu, 07 Maret 2018

RANGGA VS DILAN : Yang mana yang too good to be true dan too close to reality?




Bulan lalu saya cuti dan berada di rumah kakak dan ibu saya di Tasikmalaya. Selama seminggu hampir tak ada kegiatan selain makan, tidur dan ngasuh ponakan (karena hujan seharian selama seminggu, baru cerah saat perjalanan kemnbali ke Jakarta). Ada satu kegiatan lagi yang terpaksa saya lakukan, yakni baca buku alias novel rekomendasi adik saya, yakni (JRENG JRENG, GONG, PERKUSI DSB) DILANNNNNNNN. (ayo beri tepukan paling gemuruh).

Saya belum pernah nonton film nya, tapi saya sudah meilhat penampakan novel itu di kamar adik saya bertahun2 yang lalu. Saat saya baca saja minggu lalu, bukunya secara fisik sudah lepek, berwarna kuning ke kuning-kuningan, ada bercak air yang sudha mengering entah bekas air apa… ya begitulah. Pun saya hingga sebulan lebih (mungkin) lebih penayangannya, belum niat dan memang belum mahu saja menontonnya. (Bapak Presiden aja udah nonton). Meski kemarin sang adik sempat juga ngajak nonotn (lagi. Ya adik saya aja pengen nonton kedua kalinya).

Well, karena seminggu cuti (penting lagi untuk diingatkan), maka kegiatan sampingan yang saya kerjakan ada NYOSMED. Mulai dari jadi rajin cek FB, baca2 semua artikel berguna di kaskus, hingga yang masih rutin dilakukan yakni cek twitter dan IG, nah di dua sosmed terakhir inilah saya menemukan fenomena yang tengah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat, yakni DEMAM DILAN. Langsung spesifik ya, saya gak akan bahas teknis atau kualitas film nya, pun membahasa meme2 plesetan adegan dilan yang rindu2 itu, bukan,.. tapi ini adalah satu hal yang mengusik jiwa dan rasa gatal yang muncul dalam benak saya saja sih. Setelah membaca novel DILAN, dan menemukan sebuah (dua) postingan di IG yang membandingkan tokoh utama film Dilan dengan tokoh utama film AADC.

Yep, mungkin pembaca disini (maksudnya siapa tahu, syukur ada yang baca blog ini dan merasa tengah masuk dalam cerita ini) ada yang ngeh gitu dengan postingan yang mebandingkan tokoh CINTA VS MILEA dan RANGGA VS DILAN. Ada bahkan yang mengadakan polling: milih siapa, Rangga atau Dilan. Cinta atau Milea. Baiklah mungkin ada beberapa yang jengah, atau terlarut dang langsung memilih tokoh mana yang merasa ANDA banget. MAKA SEBELUM EUFORIA DILAN MAKIN  SENYAP... Well, this is my review, tapi akan fokeus ke tokoh cowok aja ya. Apakah Rangga atau dilan yang too good to be true, atau too close to reality?


Rangga
sumber foto : http://www.genmuda.com/nih-8-cara-mendapatkan-cowok-kayak-rangga/
Jujur, saya melihat film AADC sekira 10 tahun setelah penayangannya. Maksudnya menonton secara lengkap, utuh, dari awal sampai akhir. Bahkan saya menontonnya berulang2 di bagian2 monumental. Semisal dialog rangga dan cinta yang “basi madingnya udah mau terbit…” atau “salah gw, salah temen2 gw…”. maka sosok cinta dan rangga masih lekat dalam ingatan saya.

Well rangga yang miterius, pendiam dan suka sastra kayaknya memang paket yang (nope, hampir aja nulis lengkap) mendekati kenyataan ya. Cung, siapa disini yang pernah melihat sosok kayak rangga dikehidupan nyata. Atau mari buat ini lebih mudah. Cung disini yang ngerasa mirip sama rangga sifatnya? Satu, dua… nah ada kan….
Karena menurut saya yang sudah 3 dasawarsa hidup (heux…) kayaknya sifat rangga ini memang berdasar riset dan banyak ditemui pada kalangan pelajar seusianya. Pendiam, jarang bersosialisasi, nongkrongnya di perpustakaan, maka kemungkinan ia suka sastra pun besar. Sosok rangga juga tidak dibesar-besarkan oleh sang sutradara atau kreatornya, atau siapapun itu. Dia punya kekurangan iya, misal malu2 saat berbicara dengan lawan jenis (ya namanya juga ansos).


Dilan
sumber foto : https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180209151143-220-275077/kala-gombalan-dilan-bikin-kelepek-indonesia
Setelah khatam baca novelnya dalam beberapa hari, saya punya bekal yang cukup untuk mengulas sosok dilan, berdasarkan sudut pandang saya. Menurut saya sosok Dilan too good to be true, dan mugnkin kayak judul lagunya boson (jadul banget) “one in a million” kaalupun ada. (tenang-tenang , harap sabar dilan lovers…) Oke, saya mafhum bahwa memang ini adalah sebuah tokoh fiktif, maka sekali lagi saya tekankan, ini adalah penilaian dan pandangan saya. Toh saya tidak menghakimi mana yang lebih bagus atau tidak. Ini adalah pengembangan dan mungkin apresiasi saya akan kedua tokoh ini,.
Oke kembali ke topik. Tokoh dilan menurut saya terlalu ideal. Dalam arti untuk remaja kelas 2 SMA (bener kan ya dua SMA). dilan digambarkan sebagai yang serba bisa, menguasai banyak bidang dengan perangai yang diidamkan banyak kaum hawa muda (siswi SMA) pada umumnya. Mari kita bedah satu persatu:

- dilan anak motor, badboy, gemar berantem.
Ini satu paket. Karena dulu ketika saya SMA pun sering mendapati teman atau sosok pelajar macam ini. Ditambah anak motor yang gaul biasanya nongkrong di warung luar sekolah. Sepaket. Dengan gambaran sifat ini, mudah sekali bayangan sosok dilan dicari pada sosok pelajar2 lain diluar sana

- dilan jago merayu (gombal), suka sastra dan rajin bikin puisi, bisa gambar karikatur, bisa main gitar.
Oh wow, dilan ini keturunan dari berbagai seniman ya. Seingat saya bapak nya dilan tentara, ibunya dilan guru (saya lupa yang ini, guru sastra atau bahasa). Ya memang bisa saja kedua nya punya darah seni. Atau dari sodara pinggir, atau kakek nenek nya. Namuna apakah selengkap itu? Biasanya pelukis pun jarang bisa bernyanyi. Atau penyair pun belum tentu bagus saat karokean. Bahkan teh melly goeslaw yang sudah menciptakan ratusan purnama lagu soundtrack film, konon tak bisa memainkan instrumen atau alat musik. Yep. Pada faktanya jarang sekali seorang sneiman atau yang berjiwa seni memiliki kemampuan seni lengkap. So, sudah mulai tersadar?

- dilan langganan majalah TEMPO, hingga punya poster pemimpin spiritual islam di kamar nya.
Saya saat SMA adalah pembaca koran dan penyimak berita internasional. Tapi gak sampai punya poster pemimpin dunia juga, meski dulu sempat ngefans dengan Nelson Mandela. Kalo saya anak motor, pasti saya lebih memilih poster motor-motor gahar buat menghiasi kamar remaja khas saya. Tull gag?

- dilan ikut cerdas cermat
Hm… teman SMA saya dulu yang ikut berbagai olimpiade memang anak motor, maksudnya naik motor ke sekolahnya, namun tak menjadikan motor sebagai identitas keremajaan mereka. Justru yang ikut olimpiade adalah yang anak TAKSIS (semacam orgaisasi kajian ilmiah gitu), anak rohis, berkacamata, kancing dipakai hingga ke pangkal leher, ya stereotipe begitu. Disekolah kamu gitu juga gak? 


Jadi, bagaimana menurut pembaca? (semoga ada yg baca dan komeng ya gan...). 
Well itulah pandangan saya akan kedua tokoh rekaan ini. sekali lagi, ini hanya tulisan dari sudut pandang saya, sejauh saya mengenal dua tooh tersebut dari fil (AADC) dan novel (Dilan).

Spread love not hate.

LOLs (Lots of loves)


Ferry