Minggu, 12 Februari 2017

MY BACKPERIENCE OVERLAND MALAYSIA – THAILAND






IVE BEEN HERE ALL NITE, IVE BEEN HERE ALL DAY… (hayo tebak lagu apa…) HALAH… gegara abis dengerin lagu itu di radio (sumpah di radio loh ya, bukan dari playlist sendiri…) jadi ketulis ga sengaja…
Oke skip.
Dosa…, dosa besar saya tak menulis pengalaman berharga ini ke blog pribadi. Dan lebih NISTA (NISTAGRAM keles, ITU INSTA>>>>) ini sudah belalu hamper satu tahun. Well sebelum genap setahun, mari kita ketak ketik… PENGALAMAN SOLO BACKPACKING KE MALAYSIA DAN THAILAND SELATAN MELALUI JALUR DARAT…. (sengaja capslock biar mudah kedetect di google, jadi syukur2 ada yg baca.)
Hikmah berburu tok, eh tiket murah ini kembali menghampiri diri di akhir 2015. Setelah pada april 2015 ke negeri mungil singapura, dan melihat keajaiban negeri singa.(cek postingan sebelumnya kalo blm baca.) maka pertengahan atau bulan april 2016 saya dapat tiket CGK _KL _CGK murah meriah. Gak sampai 1 juta, kalau masih inget 700ribuan mendekati 800ribu. Well, kenapa KL Malay, padahal di November , sebulan sebelumnya saya dpt kesempatan liputan ke sana, dan di maret sebulan sebelum hari H kembali dapat kesempatan ke KL. Duh ada pertalian apa ya awak dengan negeri nya cik siti ini, karena saya mau ke THAI dengan cara yg tak biasa. LEWAT DARAT. NOTABENE pengen nyoba aja proses imigrasi dari Malay ke thai via darat. Apakah setegang malay – sin yang sempt saya alami di bulan maret. Hm…

Senin, 11 april 2016
Well, hari yg dinanti pun tiba. Senin 11 April 2016, kaki gak semampai saya pun mendarat di KLIA2. Mall with airport (keren kan tag line nya, ill tell u latter). Mall eh erpot yg jadi home base nya AIRASIA ini modern, simple namun luas. Beda dengan kLIA yg Nampak klasik dan mevvah arsitekturnya. Saya mendarat pagi jam 10an, kamudian keliling mencari sarapan sekenannya, dan jatuh pada … AUNTIES ANNE… (di jkt pun berantakan) saya akhirnya bimbang. Apakah akan menuju KL sentral dengan bas, atau KLIA expres (kereta, eh train. Kerana kereta merujuk pada car atau mobil dalam bahasa).  Akhirnya setelah itung kancing naik bas kerana lebih murah.  Perlu klean tahu, KLIA itu bukan di KL, jangan terpedaya pada namanya. Bahkan lebih jauh dr pada Soetta yg masih nempel dengan bibir Jakarta barat. KLIA terletak di sepang yg adalah luar Kota KL. Dan butuh waktu sejam lebih dengan bas untuk menuju KL sentral. Saya memutuskan tak turun di KL sentral kerana BAS berhenti di dekat sebuah stesen (stasiun) yg ternyata selemparan batu menuju ke pasar SENI (PS). Tujuan saya pertama. Oya kenapa saya ngebet, kerana memang pengen aja keliling pasar seni yg menjual aneka cenderamata khas Malay. Oya, disini sekalian cari makasn siang juga, kerana perut sudah minta diisi(kembali).
Sepertinya harga dan cenderamata disini lebih mahal deh (setelah dibandingkan dengan kawasan bukit bintang (BB), karena pas  bulan maret saya belanja oleh2nya di BB), hanya disini memang dikhususkan gitu. Ya begitulaah (ga nyambung ye). Jadi kalau mau beli oleh2 coklat, gantungan kunci atau tempelan kulkas, BB is the mostb recommended spot. Selesai keliling dan sarapan.  Saya jelajah sekitaran PS, saya nemu sebuah barbershop yg dikelola orang keturunan india. Saat masuk, aroma khas rempah india menyeruak. Dan tuan takur pun yg fasih bahasa melayu menyapa saya… dan rambut saya pun dipotong seperti ini jadinya…
Oya, tahun lalu saat di SIN, saya juga menyempatkan potong rambut. Bukan gegayaan potong rambut doing mesti ke LN. Bukan.., tp ya klenik nya, biar ninggalin anggota tubuh di Negara tertentu (rambut kan anggota tubuh, sehingga bisa kembali lagi suatu saat nanti. Ini terbutkti di maret 2016 sya ke SIN lagi, meski urusan kerjaan yg tak terduga) Padahal mah emang udah pengen potong aja. Setelah lumayan ganteng saya naik monorel menuju ke dataran merdeka, tempat Malaysia proklamirkan kemerdekaan. Disini terdpat tiang bendera tertinggi didunia. Dan ada sebuah bangunan peninggalan Inggris (duh lupa namanya) yang jadi ikon Malaysia juga (sebelum ada petronas dan KL tower). Setelah puas, saya menuju masjid jamek, salah satu masjid tertua di KL. Jaraknya dari dataran merdeka dekat saje, jalan kaki 10-15 menit sampai. 

mandatory pose...
 
Sore menjelang saya sudah janjian dengan teman untuk bertemu di Suria KLCC, mall di lantai2 awal petronas twin tower. Teman saya itu Teuku adnan, bertemu pertama kali saat saya liput penghitungan suara pemilu LN tahun 2014. Beliau  itu ketua penyelenggara pemilu di Malaysia. Malaysia merupakan Negara dengan jumlah pemilih terbesar, 1 juta lebih (secara banyak tki disana) maka dari itu saya dulu pernah wawancara beliau dan kenal lah… saya janjian karena beliau ingin mengantar saya ke terminal bersepadu selatan (TBS) untuk mendapati bus yang akan menghantar saya ke Hatyai.
Setelah bermacat2 ria (KL macet parah bak jKT), saya tiba di TBS. dan lemes seketika kerana tiket malam itu habis. Well, akhinrya saya dibelikan (catat, dibelikan) oleh bang adnan tiket keesokan harinya, pagi sekira pukul 9 menuju hatyai. YAIyyyy… oya, kebaikan bang adnan tak berhenti disitu, ia mengajak saya makan malam tapi menjemput temannya dulu di bandara. Mba linda, seorang dosen ilmu politik di UNCEN Jayapura yang sedang ambil doctoral di salah satu universitas di malay. Well, makan malamnya syahdu banget, di tengah kota KL lupa nama lokasinya, tp latar belakang gedung twin tower. Makanan nya khas melayu yg berempah. Dan sampe kenyang parah. Pulang pun harus dibopong (boong). Dannn kebaikan lainnya, saya di booked kan hotel oleh bang adnan. Gkgkgkg (banyak gratisan hari pertama…)
Well, hamper jam 00 saya tiba di kamar HRATIS itu, mandi dengan pemandangan kota KL yg udah sepi (beneran loh, saya mandi dengan gorden di jendela kamar mandi yg terbuka, mudah2an ga ada paparazzi), tidur, dan siap2 berpetualang ke THAI di hari kedua. 

Selasa, 12 april 2016
Bangun subuh, naik taksi menuju TBS, menunggu dengan ganteng deh bis ke Hatyai. Oya, ini terminal berasa Bandara. Bersih, luas dan teratur. Ga ada yg namanya calo, preman, pengemis. Duh,, jadi sedih kalo dibandingin sama terminal di negeri sendiri. Padahal kita meredka duluan, ah… sudahlah… 
ruang tunggu alias boarding room terminal

Bis saya pun melaju ke utara. Mampir di beberapa titik untuk jemput penumpang di nonterminal. Dan berhenti sekali untuk makan siang masih di wilayah malay. Makan siang saya cukup rati dan jus manga, tapi bikin kenyang. Di cek point, kami harus turun satu persatu, antri cap paspor keluar malay. Oya, imigrasi malay masih bagus, rapih… dan jalan kaki lah kita ke imigrasi THAI. Suasana Thai mulai terasa. Ada bendera Thai yg keren perpaduan warnannya itu, dan disini agak tak seteratur di imigrasi malay sih. Antrinya pun lebih lama,. Sampai akhirnya… kami semua penumpang satu bus selesai imigrasi. Dn lanjut perjalanan. Hamper maghrib (bayangin berapa jam KL – hatyai) kami tiba di titik turun terakhir. Saya salah. Harusnya turun di terminal Hatyai yang sudah terlewat. DON’T PANIC is the key. Pak sopir pun acuh tak memberi solusi, saya turun di pusat kota Hatyai.
Setelah Tanya adakah VAN (sejenis travel jkt – bdg) yang langsung ke AO NANG, Krabi,eh Agen penjual tiketnya tutup. Dan menyarankan esok pagi lagi dating untuk membeli tiket. Padahal kerai took agennya baru setengah tutup, saya maksa (org Indonesia banget kan) pun ga digubrisnya. Well, banyak cara lain kea o nang, tujuan akhir saya di Thai. Termasuk naik bus yang lebih murah pastinya. Malam itu malam tahun baru thai alias songkran,. Maka di Hatyai pun ramai orang2 saling lempar air. SAYA yang tak  niat basah2pun disiram orang2 di jalan. Huft.karena hari udah semakin malam. Otak saya semakin berputar. Mesti tidur dimana nih malam. Masa ngemper, kan gak lucu…
Akhirnya saya memutuskan ke TERMINAL HATYAI dengan songthaew (macam angkot bak terbuka) yang SAYA CARTER SENDIRIAN), SAYA BAYAR CUKUP MAHAL (UDAHLAH GA PERLU SEBUT NOMINAL, MUNGKIN ini balasan dari serba gratis di KL. Tiba di terminal saya cari loket bus kea o nang, and finally dapat… jam 20/21 bus menuju ao nang dan tiba disana jam 12an malam, yeay…
So, sambil menunggu waktu berangkat bus, saya pun cari makan. Alhamdulillah ada penjual nasi bekerudung, it means makanan halal. Dan ibuk penjual pun bisa cakap melayu. Alamak senang pula awak bisa numpang charge HP kerana baru beli perdana, dan mau uplod foto di IG (PAMER udah sampe THAI).
Hamper jam 21, bus yg saya pesan ga muncul juga di jalur 1. Saya nannya ke orang2 dijawab dengan bahasa thai. Padahal udah nannya pake bahasa inggris, dan bilang ga bisa bahasa thai. Duh gusti. Ternyata eg ternyata busnya pindah jalur. Untung. Disinilah pepatah “malu bertanya sesat dijalan” benar adanya. Perjalanan dengan bus apa adanya (tapi dikasih selimut, cihuy ga?) pun berakhir buat saya selama 4 jam. Jam 24 lewat saya duturunkan paksa (dramatisir) di pusat kota krabi alias krabi town. Tapi kok sepi, ga ada orang, tengah malem pulak.
Akhirnya tiba lah seorang bapak menghampiri saya. Dengan sebuah sepeda motor ia nannya “bang ganteng mau kemane lo…” eh salah dia nannya nya gini “912730165893590719274-17-29rihflwsld;ph,” pokoknya bahasa thai. Setelah dijelaskan, well dia ngeh dan bersedia nganterin gw sampe bibir eh depan tuh hostel tempat nginep. Setelah menempuh hutan, em kebun deh, ya kebun kelapa (yakin berarti gw ga disasarin, karena kelapa means deket pantai)  selama hamper 30 menit. Gw ti tiba di LITTLE HOME ao nang, sang penjaga hostel yang sudah saya email kalao saya akan cek in telat pun, langsung terbangun dan memberikan saya kunci. Well, jam 01.00 saya pun tiba di kamar hostel.

Rabu, 13 april 2016
Setelah mandi dan beres2 saya benar2 pengen meluruskan badan. Ya sekitar jam2 pagi saya baru bisa tidur. Lampu saya matikan, gorden kamar saya buka lebar, agar pemandangan keluar  (bukan pantai, tapi garasi dan kamar hotel sebelah) terpampang nyata, Dan…
Jreng, jreng… baru beberapa menit, terlelap. Tiba2 sesosok bayangan hitam mendekat, dan seolah ada didepan saya. Padahal saya tidur di ranjang tingkat dan di tingkat kedua pulak. KETINDIHAN. Ya fenomena itu ternyata ada juga di negeri org. buktinya gw mengalami nya di Thai. Ga bisa bangun, padahal mata seolah terbuka dengan pemandangan actual saat itu. Tapi mulut terkunci, badan terdiam tak bisa gerak. Setelah mencoba membaca ayat2 suci, akhirnya diri ini terbebas. Bayangan hitam itu perlahan sirna, namun tetap tak kuasa membendung cucuran keringat. Ingin kembali tidur, tapi ragu… well, karena ini hari panjang saya pun tertidur dan bangun kesiangan…


inilah kamar ho(s)tel selama saya di Ao Nang.

Sekitar jam 7 saya bangun, menikmati sarapan seadanya (roti dan teh manis) saya Tanya ke resepsionis berhijab (mayoritas org thai selatan memang muslim) ternyata dulu lokasi ini kena dampak tsunami 2006. Jadi ya, harap maklum. Padahal lokasinya udah agak di bukit gitu. Yasudlah, jadi ada pengalaman kan. Saya langsung book tur ke phi2 island sbuat esok hari, di saat itu juga. Agar tak kepenuhan atau kehabisan tempat.
Satu yang bisa kita petik dari system pariwisata thai. Semua terkoneksi dengan baik. Semua hotel sudah punya link ke tur2 harian. Tinggal pilih mau tur apa, nanti dibboking kan oleh hotel. Besok paginya, kita dijemput dan nikmatilah tur seharian. Simple kan.  Ga perlu didatangi calo2 di pinggir pantai. Atau ga perlu bingung mendatangi satu persatu agen tur dan bingung dengan perang harga. Saya rasa inilah kunci sukses pariwisata THAILAND.
Seharian ini, saya mau eksplore ao nang saja. Sambil nabung tenaga buat tur esok hari. Dan eh ternyata, godaan ikut perang air dijlanan membuat saya beli pistol air, dan melebur bersama local dalam perang air songkran. Banyak bule yg ikutn juga. Tapi memang ga seramai di BKK atau Chiang mai sih, kembali Karena disini mayoritas muslim, yang sepertinya tak ikut merayakan tahun baru thai.
Kembali ke kamar saya kaget. Karena mendapati pria bule setengah bugil. Well dia hanya bercelana dan tak pakai baju, agar redaksinya tak bombastis. Aha… saya dpt roommate, mudah2an ga ada lagi kejadian ketindihan itu. Ngobrol ngalor ngidul lah kita. Sampai akhirnya sama2 ketiduran. (dia di bawah, gw di atas. Di ranjang bawahh dan ranjang atas, terpisah. Penting untuk diperjelas).

Kamis, 14 april 2016
Hari yang dinanti tiba. Dijemput tepat jam 8. Saya lalu dikumpulkan dengan rombongan lain. Tur phi2 island pakai stiker kuning di kaos. Setelah absen, berangkat. Well, rombongan gw ini agak kurangs eru. Secara kebanyakan pada introvert, sementara AKU SENDIRI DAN BUTUH TEMAN NGOBROL. Bule pun taka da. Hanya local, orang malay, dan empat orang india. Oya, satu diantara orang india itu ada yang mirip KIM K, saya ga sempet foto bareng,.
Ga mau banyak ketak ketik soal phi2 islan, maya bay dan pantai2 ganteng lainnya yang kita singgahi. cekibrot aja dari foto2 berikut, enjoy :
 
mandatory selfie

cuma mau nunjukin kalo udah di maya bay, gak ada maksud dan tujuan lain

monkey beach

Mr. jo Island


Spot2 yang dihampiri yaitu Phi-phi island, bamboo island, monkey beach, dan sebuah pulau (lupa) yang menjadi spot makan siang dll. Kembali ke ao nang sore jam 15, dengan wajah memerah, badan letih namun senang tak terkira.

Jumat, 15 april 2016
Hari ini, leyeh2 all day long. Tapi berteptan dengan dengan hari jumat, saya pun mencari masjid buat solat jumat. Ternyata masjid di ao nang ini cukup banyak jumlahnya. Tapi agak ke daerah bukit, jauh dari pantai. Walhasil saya harus jalan 20 menit kearah utara ao nang dan menemukan masjid berkubah emas nan indah. Ceramah dalam bahasa thai pun, menemani ibadah siang itu.
Setelah maksi seadanya (kok seadanya terus…) gw mulai ngerjain sang teman, untuk minta di bayarkan tiket pesawat dari krabi ke KL. Saya (saya atau gw sih, ga konsisten) memutuskan naik pesawat karena mau menghemat banyak waktu. Perjalanan melelahkan KL – Krabi selama lebih dari 12 jam, membuat saya menempuh moda lain saat kembali.
Dan seharian ini, saya habiskan ngadem di pantai lain milik ao nang, untuk duduk2 saja tepi pantai, beli makanan, wifian lagi di ho(s)tel, hendak gaul sama turis lain pun lagi sepi saat itu. Huft.

Sabtu, 16 april 2016
Waktunya pulang,. setelah hampir seminggu solo backpacking di negeri orang. pagi yang sangat tepat waktu jam 8.00 saya di jemput van menuju bandara Krabi (KBV) yang berjarak sekitar 30 menit. bandara cilik namun apik, seperti bandara Adi soetjipto, saya menunggu waktu keberangkatan di ruang yang penuh dengan BULE. bukan lokal lho. dan asia nya bisa dihitung jari. gw termasuk asia ya...
oya, tadi di awal saya jelaskan kan KLIA 2 adalah mall with airport karena memang dibikin konsep Mall yang dilengkapi fasilitas bandara. jadi mall nya luas dengan berbagai merek terkenal (toys city, merek2 fashion, dan FOODCOURT yang super lengkap. mau makanan barat, asia, lokal sampai indonesia pun ada. tinggal pilih sesuai kocek yang tersisa. hahaha.. ada tempat leyeh2 juga. dan the best spot is, ada anjungan atau deck tempat kita bisa melihat pesawat landing dan take off, sembari menikmati mentari sore. 


akhirnya, selesai sudah pengalaman berharga di 2016 ini. so, where's next?


lots of love

ferry

Rabu, 07 September 2016

PAPUA, WONDER OF NATURE


panorama Danau Habema yang diabadikan oleh fotografer koran dengan oplah nomor satu di negeri ini.



Papua, wonder of nature. KEREN GA SIH GW KASIH JUDUL... 
(oke mulai serius)


Tak pernah terbayangkan jikalau saya akan menginjakan kaki ketiga kalinya di bumi cenderawasih.
Dua orang teman saya yang sedari lama bermimpi dan berangan ke Papua, bahkan belum merasakannya. (colek genit : iftor dan maulin). Padahal dari dulu belahan bumi Indonesia yang ingin saya pijak dan ngebet adalah Lombok (cita2 dari SMP kelak mau bulan madu kesini), Maluku (pengen kayak artis2 renang di Ora resort), atau aceh (keren aja, melihat pariwisata aceh yang bangkit setelah tsunami). Alhamdulillah Lombok dan Aceh sudah, meski hanya sekilas. Tapi Papua, selalu berkesan, lebih dari 3 hari tinggal disana setiap kunjungan (kerja). Ah, so, this is my third journey to the wonderful Papua, specially Wamena.

Saya kembali ditugaskan untuk meliput 17 agustus di daerah. Setelah 2013 di perbatasan Indo – malay tepatnya di blok... duh lupa namanya, 2014 di Timika, maka 2018 kembali ke papua, Kabupaten Wamena tepatnya. Ngapain, ya meliput 17 agustusan disana. Di daerah paling timur Indonesia. Tapi biar gak biasa, ada Gimmick demi layar lebih menarik.
Beda dengan tahun2 sebelumnya, tahun ini perayaan 17 agustus di daerah diwarnai aksi membentuk formasi 71, dan diambil dengan video udara atau drone, jadi makin ciamik kalo disajikan di layar. Tapi,.. ah sudahlah, saya ga akan cerita dibalik layar yang sebenarnya menguras darah dan air mata. Mungkin hanya sedikit.


Bandara Wamena. oya, sudah didarati pesawat besar airbus lho...
Wamena
Ibu kota kabupaten jayawijaya ini, berada di wilayah pegunungan tengah papua, atau rangkaian pegunungan puncak jaya. Bayangan saya bermacam2 akan kota ini, mulai dari suhu nya yang dingin (karena berada di ketinggian 300 mpdl), masyarakatnya yang masih berpakaian tradidional seperti koteka, hingga penerbangan perintis dan bandara seadanya sebagai penyambut pertama saya disana.

Prang…. Tapi bayangan2 itu sirna. Mendaratkan kaki pertama kali di BAndara Wamena, saya terperangah. Bandara sudah dengan bangunan modern, atap baja, dinding kaca, dan untuk mempermanis bandara, tersedia foto2 khas papua yang dipajang di area kedatangan. “now I am in this wonderfull island, papua…” gumam gw dalam hati (gaya beut, bergumam aja sok pake bahasa enggres).
Keluar dari bandara saya menikmati jalanan yang sudah berasapal, dan mengejutkannya, ada sejumlah becak disini, yang dikayuh oleh orang papua. Kata teman2 TNI yang menjemput kami, becak2 itu peninggalan pendatang dari jawa yang dulu banyak disini, akhirnya setelah kembali ke Jawa, becak2nya pun diinvetarisir oleh orang local, sebagai mata pencaharian.

Dingina, tak juga, langit Wamena selalu cerah dengan langit biru nya yang selalu terbelalak. Hangat bahkan. Warga nya ramah dan selalu melempar senyum. Bergerak sedkiti ke wilayah luar wamena, kita masih bias melihat sesekali pria hanya dengan koteka, sementara kaum wanita, kebanyakan sudah berpakaian lengkap.

dua cameramen saya, girang bukan kepalang berfoto dengan anak2 papua, dan honai sebagai background

Oya, ekonomi di Wamena ini unik, semua pasokan makanan atau barang2 lainnya di pasok melalui udara, that’s why harga disini selangit, dua bahkan tiga kali lipat daripada harga Jakarta atau pulau jawa. Hm, itusebab saat ini sedang digenjot pembangunan jalan Trans Papua, yang menghubungkan kota2 di pulau ini. Rencananya nanti Mimika dan wamena dapat terhubung. Cek peta aja broh, biar tahu papua itu gede banget dan kalau ada jalan bakal dampaknya gede banget juga buat perekonomian disini. (meme angels).

Soal spot2 terbaik, ya salah satu yang sudah mendunia adalah lembah baliem. Setiap agustus disini ada festival budaya lembah baliem, katanya turis asing lebih banyak disbanding turis local Indonesia, karena selain memamerkan budaya atau tariang perang antar suku, proses nya aja udah photo able yang instagram able. Gitu… (pegel nulis able2 an)

Selain itu, tradisi yang masih terjaga hingga saat ini yaitu, bakar batu. Eits, ga hanya sekadar batu yg dibakar, tapi biasanya ada daging babi, sayur dan ubi. Ya kalo di jaw amah ini kayak tumpengan gitu, sebagai wujud syukur. Nah karena kemaren bertepatan dengan 17 agt, maka bakar batu yg berharga 100 juta rupiah, diadakan. Uang 100 juta ini 25 sumbangan dari pemkab, 75 juta nya lagi urunan dari warga.  No wonder, karena harga 1 babik bias mencapai 25 jetong. Itu babik nelen emas ya? Atau digelonggongi oleh cairan platina? No, emang babi itu adalah hewan yg mahal kalo di papua, apalagi kalo bentuk nya montok2.


seorang ibu dan bayi nya. bayi ini dimasukan ke dalam hanoken (tas tradisional untuk para wanita), jangan khawatir, justru tas ini membuat bayi nyaman dan hangat.

Eits, kalian pasti mikir saya ikut makan, enggak sih… meski sempet ngiler banyak (sambil usap iler)… baiknya, mamak2 juga sudah menyediakan ayam khsusu buat yang muslim. Horray… jadi kita makannya ubi, ayam. Udah super kenyang.

Satu yang jadi kebanggaan saya sebagai orang Indonesia (cie, akhirnya…) adalah betapa negeri ini sangat besar, tapi butuh usaha ekstra juga untuk menjaga nya. Mereka saudara2 kita di papua sudah sangat senang dengan perayaan khas 17an, maka sudah sepatutnya mereka juga di beri jatah kue buah pembangunan. Pembangunan jalan transpapua adalah salah satu bentuk nyata. Jadiin ya pak jalnnya sampai kelar, jangan mogok di tengah jalan…

Sebagai pembanding, dulu warga dari distrik mbua di kabupaten Nduga (sebelah barat kab, jayawijaya, perlu jalan kaki 40 hari dari Wamena ke Mbua. Padahal keperluannya hanya beli baju misalnya, karena di Mbua masih berupa distrik kecil. Nah sekarang, sekarang… ayo tebak jadi berapa hari, (kalo jalan kaki. FYI jalan kaki itu hal biasa buat mereka men, hebat ga…). Sekarang setelah ada trans papua, Mbua – Wamena jadi hanya 4 HARI SAJA DENGAN BERJALAN KAKI.  (prok prok prok). Jadi, secara matematis satu persepuluh kali lama perjalanan bisa di pangkas.

Oya, sebagai anak hutan (sarjanan kehutanan, literally). Saya bangga bias menginjakkan kaki di Taman Nasional terbesar dan terlengkap di negeri ini. TN Lorentz. Ya, kawasan ini membentang luas dari pegunungan tengah papua, hingga bagian selatan atau perut pulau berbentuk burung ini. (cek aja maps broh). Disini ada Danau Habema, trus ada beberapa kali terlihat gunung yang diseimuti sesuatu berwarna putih (yang saya duga itu salju). Keren deh pokoknya. Karena tak bias berkata2 endah, langsung cek foto2 nya aja ya gans…

sesekali nampang ya, (pake seragam pula, duh...). ini pelangi sehabis hujan di salah satu kawasan di TN Lorentz. kece kan?

merah putih dan papua. NKRI.

Danau Habema

Yang ambilin foto ini Juara. padahal seorang gadis kelas 2 SD lho...


Well, selama sekitar 4 hari di wamena, ada beberapa hikmah yang bias saya petik.
-          Kayanya tanah papua harus diimbangi dengan kuat nya perhatian pemerintah pusat pada wilayah ini
-          Salut untuk tni yang membantu dan mengerjakan dari pembangunan jalan Trans papua.
-          Kalau ada uang lebih, main2 lah kesini. Apalagi bagi yang berjiwa petualang.

(ini mah lebih ke testimony ya, bukan hikmah, apaan sih fer…)

Sekian deh corat-coret iseng sebenernya ini bagian dari travelperience series di blog yang JARANG DIUPDATE INI. (Update kalo dapet jalan2 yang jauh… heuh, blogger macam apa gue inih…)


Bye,
Lots of love



Senin, 05 September 2016

Bali, ga ada abisnya…

pantai GREEN BOWL




Well,, mungkin postingan gw ini udah basi kalo dari spot2 wisatanya, karena mungkin sudah pernah di bahas di blog2 lain. Tapi sebagai penebus dosa karena sudah lama tak mengisi blog kesayangan, maka saya akan berbagi dari yang hangat dulu. Yang panas (papua : wamena, mbua, dan KOREA LAGI) segera. Mohon ingatkan ya pembaca (kayak ada yg baca aja…)

Saya bak mendapat durian runtuh, ketika dibakari eh dikabari Korlip untuk liputan di Bali. Ya, minggu awal saya akan bertugas meliput pertemuan 3 menteri pertahanan (ina, mas, phi) soal kasus perompakan dan penyanderaan WNI oleh abu sayyaf and the ganks… setelah sebelumnya jadi korban PHP (harusnya pertemuan diadakan di KL, saya juga yg ditugaskan, tapi batal tetiba beberapa hari sebelum keberangkatan). Maka ini seolah ganti nya. Hoho..

Usai sudah pertemuan trilateral tersebut (lah, inti pertemuannya ga usah diceritain ya, ga nyambung sama LIBURAN terselubung ini…). Beberapa jam sebelum kembali ke Jakarta, saya mendapat kabar lagi dari Korlip (Koordinator liputan) untuk kemBALI minggu depan ke BALI untuk liputan lain, yakni konferensi anti terorisme. Hm… niat hati saya menolak karena letih harus bolak-balik JKT-bali – JKT. Tapi ya, saya sudah menolak dengan halus, tapi korlip tetap meminta saya yang meliput. Akhirnya pasrah lah… (pasrah membawa nikmat)

Hari yang dinanti pun tiba (cie, berarti malu2 mau, tuh buktinya dinanti…) setelah daftar ulang di hari kedua saya tiba di bali (hari pertsama Cuma nongkring di kuta, lumayan kan…) saya hanya daftar ulang, artinya belum ada agenda konferensi yang bisa diliput, dan tanpa dinyana ternayat acara konferensi hanya berlangsung satu hari, pada 10 agustus sahaja. Well,, di hari itu pun (9 agt) saya merencanakan meet up dengan seorang teman traveller juga. Meluncurah kami ke pantai  Jimbaran guna meneguk segelas wine lemontea bersama pizza yang so-so di salah satu cafĂ© nya yang berinisial JWB. Suasana khas jimbaran, dengan waktu yang tepat saat sunset, membuat saya berasa ada di pilem2 jadi tokoh protagonist yang happy ending (apasih).

Obrolan saya dan teman, lalu bertambah meriah karena dua teman nya teman saya itu datang menghampiri, ada yang bawa anak pula. Jadilah obrolan pun kemana2, mulai dari macetnya bali, cafe2 hits yang belum mereka coba dan sudah masuk waiting list, kerjaan mereka bertiga yang pusing dengan kelakuan tamu hotelnya yang minta macam2 (mereka bertiga kerja sebagai manager hotel) hingga spot2 bali yang belum terjamah.

Nah soal terakhir ini lebih kepada saya yang memanas2i, agar ada masukan pantai baru bali yang sepi, dan bisa saya kunjungi di akhir PEKERJAAN saya di Pulau Dewata ini.
Tersebutlah beberapa pantai mulai dari balangan, tegal wangi, karma kandara, dll… tapi dari sekian nama, saya belum pas juga dengan nama pantai mana yang saya kunjungi.

Esok harinya tepat sesudah hari yang melelahkan meliput International Meeting on Contering Terorrism, saya sudah mendarat kamar jam 18an lewat. Senangnya karena banyak free time. Sambil tiduran, saya menatap nanar layar HP, saya gugling dengan sejumlah keywords seperti “pantai sepi di bali, pantai baru bali, hidden bitch eh beach in bali…”. Hingga akhirnya menemukan satu artikel dengan judul …. “11 PANTAI TERSEMBUNYI DI BALI DENGAN PESONA TIADA DUANYA oleh imron ramadhan. Ada pantai nyang2, gunung paying, bias tugel, green bowl, dan masih banyak lagi.  Dua pantai terakhir yang barusan ditulis lah yang mencuri pandangan saya. Setelah cek di GPS dari NOKIA LUMIA kesayangan, ternyata bias tugel jauh banget dekat padang bai, sementara hotel saya di jalan by pass. Dan ya, sudah bias tertebak, pantai GREEN BOWL yang akhirnya saya pinang, karena jaraknya hanya sekitr 8km saja dan 20 menit berkendaran (perkiraan GPS).
Dan tadaaaaaa… keesokan harinya tiba, saya sudah tak sabar dan terbangun pagi. Tapi… tetes air hujan Nampak di kaca jendela kamar saya, ketika saya buka tirai nya. Ya langit diular pun bahkan masih mendung, beda dengan hari sebelumnya yang cerah cenderung panas.

Hm… setelah sarapan dengan nasi jingo, saya menguatkan tekad untuk tetep mengunjungi GREENBOWL (GB). Jam 7.30 saya sewa motor dari hotel seharga 80 ribu seharian. Balik kamar dan sikat gigi, cuci muka, dan benerin muka, saya langsung cabs pas jam 8 menuju GB. GPS sudah mematok tujuan GB, dan langsung cabs dengan kecepatan sedang. Act like a local. Dengan hanya bercelana pendek, kemeja ala2, topi, helm, dan bekal hanya minum biar tak dehidrasi, saya isi bensin full tank (22ribu) untuk motor mio sewaan itu.

ekspresi gembira menemukan pantai, padahal betis mau pecah setelah meniti 330 anak tangga

Yiha… 30menitan saya menikmati jalanan dr By pass ngurah rai kearah selatan (ungasan) yang ujung2nya GB. Jalan bali is the best in the country, mulus bak porcelain tiongkok. Tengah perjalanan sempat turun hujan rintik, tapi tetetp saya terjang. Dan yang jadi prescious (duh gatau cara nulisnya, sok2an biar keren) moment  adalah aroma bakaran dupa khas bali, dan sejumlah perempuan bali dengan kebaya nya yang lewat di perkampungan yang saya lewati (boros kata). Ah…

Tiba di BG saya harus masuk dan bayar retribusi 5000 rupiah sahaja. Setelah parkir, saya dihampiri seorang nenek.
“dari mana dek…” Tanya dia ramah
“Jakarta bu…”
“oh, sendiri ya…”
“iya…” (lalu kemudian jawaban saya ini menjadi boomerang bagi diri saya sendiri….)

Ternyata nenek itu adalah scam. Setelah dengan ramah menyapa, sang nenek memaksa saya membeli gelang. Saya tolak dengan haluspun dia tetap memaksa dan menempel pada sosok saya tak mau jauh. Kebetulan saat itu lagi sepi (iyalah, pagi2 jam 8, hari kamis pula…) jadi wisatawan yang Nampak di parkiran hanya saya seorang. (sebenernya ada dua bule, tapi sudah duduk2 manis di sebuah warung di seberang parkiran motor).
Akhirnya karena ga tega, dan ga bisa nolak (sifat gw bingits). Akhirnya saya keluarkan 10 ribu seperti harga yang diminta nenek tadi. Eh belum berakhir sodara2…
“kasih lah nenek 20 ribu, buat beli minum kasian nenek…”
Oh my god, saya kira taka ada macam beginian di Bali… FYI di lain waktu saya dikabari teman kalo scam macam ini hanya ada di GB. Makanya teman saya paling malas ke GB.

Setelah sedikit menemui drama, saya harus menapaki 330 anak tangga menuju pantainya. Tanpa pemanasan tanpa apa2, saya langsung setengah berlari saking antusiasnya. Dan, sekira 7-8 menitan saya akhirnya bisa menyentuh pasir pantai GB yang lembut dan mulus. Eh ternyata di pantai sudah ada dua orang wisatwan, dan seorang nelayan rumput laut (sepertinya). Jadi aku tak sendiri (lagi).

Jika saya gambarkan GB ini tak jauh beda dengan Pandawa yang saya kunjungi tahun lalu. Ya letaknya saja berdekatan kok. Cuma GB lebih pendek garis pantainya, dan sepi. Beda dengan Pandawa yang katanya sekarang sudah semakin ramai. Kembali ke GB, katanya kenapa dinamakan mangkuk hijau, karena terdapat karang berbentuk mangkuk yang berwarna hijau karena efek rumput laut. Tapi saya tak jua menemukan greenbowl itu karena air laut masih pasang.

Tanpa sia2 kesempatan, saya langsung foto2 untuk PAMER dulu ke temen2. Tapi, sayang ga bisa pamer di IG karena disini TAK ADA SINYAL. Tapi bagusnya kita bias focus mantei tanpa mikirin dunia maya yang fana itu….

Tanpa banyak bacot, cekidot lah foto2 guweh… yang guweh ambil dengan bantuan TIMER karena ga ada yg bias dimintai tolong. Ya saya malu juga minta difoto2 in, banyak pula, plus  dengan badan setengah telanjang… alias shirtless hahahah…

terimakasih pada teknologi bernama TIMER dalam kamera HP

menyejukan dan meneteramkan

beach boy ala2. itu bukan zac efron di film baywatch, anda agak keliru jika mengira begitu


Ketika mulai menceburkan badan ke air, saya melihat seorang IBU mendekat k etas yang saya simpan di mulut gua (FYI : ada gua gua di pantai GB ini, tapi sayang banyak sampahnya, katanya sih kebawa arus. tp darimanapun itu asalnya, jangan nyampah di pantai ya guys...). Saya pun menepi. DAN DEJAVU MENYAPA. IBU kedua ini kembali melontarkan hal sama dengan ibu pertama di tempat parkiran tadi… akkk… scam kedua mulai menyerang. Dan saya pun akhirnya terlena, terpedaya mengeluarkan uang 15 ribu untuk gelang kedua. Phewwww…..

Akhirnya mood mantai pun pudar. Udah ga semangat mantai dan foto2 lagi. Tapi sudah cukuplah saya kira 1,5 jam berada disana. Saya pun segera mengakhiri beach therapy ini dan segera naik kembali meniti 330 (gatau pastinya, coba aja itung ya kalo kesana) anak tangga. Ya agak sedikit menyayangkan, karena seharusnya penjual gelang tak perlu memaksa, toh rejeki sudah ada yang atur ya ibu-ibuuuu (ibu2 dan wanita selalu benar, ditimpuki pembaca wanita, kalo ada,…)

Setelah hampir sampai parkiran, sudah ada sekitar 6 orang ibu di dekat tempat parkir, saya “dikeroyok” dengan tawaran “pijet mister… pijet…” (cie dipanggil mister gegara pake kacamata). Satu ibu bahkan teriak “woi,, udah beli gelang dia…” yang menandakan pasar persaingan sempurna benar2 terjadi disini.

Phew, tanpa melirik satupun ibu, saya langsung pasang helm, nyalakan motor, dan ngibrit….krik. agak garing dan kurang esensikah postingan kali ini? Hm,, Cuma mau cerita GB beach dan scam nya aja sih. Hahaha… tunggu postingan selanjutnya (emang ada yg nungguin,,,)

Sekian.

lots of love...